Pengalaman Mudik Pertamaku

 Hello semuanya, setelah berbulan-bulan tidak pernah menulis lagi di blog. Aku kembali~

blog+mudik+jogja+tahun+ini


Semoga dengan adanya tulisan yang baru saja aku terbitkan ini, membuat aku semakin bersemangat lagi untuk menghadirkan tulisan-tulisan berikutnya. Aamiin.


Ini akan menjadi cerita pertamaku tentang mudik, maklum ga punya kampung. hehe

Jadi baru merasakan mudik ya setelah menikah. Itupun qodarullah baru terlaksana setelah hampir enam tahun menjalankan mahligai rumah tangga ini. 

Mudik pertama yang kami rencanakan tahun 2018 harus dibatalkan karena pas banget aku baru tahu kalau aku sedang hamil dan usia kandunganku saat itu baru menapaki minggu ke-7. Kehamilan yang kami tunggu selama 18 bulan menikah pun akhirnya membuat kami mengurungkan niat untuk pergi mudik ke jogja dan cukup menguatkan niat untuk pergi ke stasiun Gambir dalam rangka mengurus pembatalan tiket kami.


Mudik kedua yang kami rencanakan tahun 2020 juga terpaksa kami urungkan karena dunia sedang tidak baik-baik saja dengan hadirnya virus korona pada awal tahun tersebut. Alhamdulillah atas izin Allah rencana kami untuk mudik dapat terlaksana pada lebaran tahun 2022 ini.


Lama perjalanan berangkat mudik ditempuh selama 17 jam

Belum mudik namanya kalau tidak merasakan yang namanya delay waktu tempuh perjalanan. Dalam waktu normal, perjalanan mudik dari kota Jakarta menuju Jogja ditempuh dalam waktu 8-10 jam. lamanya tergantung waktu istirahat yang digunakan selama waktu keberangkatan. Perjalanan kami kemarin, sekaligus menjadi pengalaman pertama saya merasakan 17 jam di perjalanan menuju ke tempat tujuan. Rasanya wow banget. Bagian belakang tubuh rasanya rentek, ingin banget dibunyiin. hehehe. 17 jam duduk di jok mobil, hiburan hanya mendengarkan musik, sambil sesekali bercengkrama dengan suami ataupun mertua dan adik ipar. Saya tidak bisa tidur, mungkin karena kelelahan. Apalagi saat berangkat kami semua dalam kondisi berpuasa. Alhamdulillah mudik tidak menghalangi puasa saya tahun ini.

Mengoptimalkan silaturrahim selama mudik

Selama di kampung mertua kemarin, kami menghabiskan hampir kebanyakan waktu untuk silaturrahim. Mulai dari tempat kakaknya bude, saudara dekat rumah di kampung mertua dan mengunjungi tetangga rasa saudaranya mertua yang berada di kota lain. Waktu dihabiskan untuk mengunjungi mereka saat lebaran tiba. Saat masih berpuasa, kami juga menggunakan waktu untuk buka bersama dan makan malam bersama dengan keluarga besar mertua di kampung. Alhamdulillah, sebuah pengalaman yang jarang bisa dilakukan bahkan setahun sekalipun.

Liburan tipis-tipis selama mudik

Mudik gak sah kalau tidak diselipkan dengan agenda liburan dong. Sudahlah jauh-jauh menempuh jarak dan waktu, rugi sekali kalau gak digunakan untuk healing. Liburan tipis-tipis ini justru menjadi healing sesungguhnya bagiku. Jalan-jalan pagi melihat hamparan sawah sambil menghirup udara yang sejuk dan segar, Mencoba kuliner di salah satu restoran terkenal di kota tersebut sambil bercengkrama bersama saudara yang baru kukenal selama menginap disana, memetik cabai langsung dari pohonnya, ataupun sekedar mengicip kembali lava tour menggunakan jeep bersama dengan suami, anak dan juga mertua. Itu semua merupakan beberapa hal yang patut aku syukuri selama mudik kemarin.

Lama perjalanan kembali ke Ibukota 14 jam

Kami menuju kota Wonogiri di hari kedua lebaran untuk mengantisipasi kepadatan arus balik, sehingga kami memilih kembali ke Jakarta pada hari ketiga. Rupanya kendaraan yang melintas sudah cukup banyak. Alih-alih menghindari arus balik, kami juga terkena delay sama seperti hari keberangkatan mudik. Yang menjadi perbedaan ialah lamanya waktu tempuh. Alhamdulillah tidak selama seperti waktu keberangkatan, saat kembali kami hanya menempuh waktu 14 jam.

Alhamdulillahirabbilalamiin...

Sekian sedikit cerita mengenai pengalaman pertama saya mudik, semoga ada hikmah dari tulisan yang aku terbitkan ini. 

Kalau kamu mudik gak di lebaran tahun ini?