Cerita Melahirkan Anak Pertama [Bagian 1]

Cerita Melahirkan Part1 ibunvi
sumber:ilustrasi canva editbyme


Melahirkan adalah sebuah proses yang sebagian besar perempuan merasakannya. Bagi saya, melahirkan adalah momen indah yang akan selalu saya ingat, terpampang nyata dalam fikiran ini, secercah cerita saat bersama dengan si anak pertama bertaruh untuk bisa berjumpa. 

"Tulisan ini berisi pengalaman pribadi seputar cerita melahirkan. Terselip pesan dan sepenggal cerita untuk menjadi pembelajaran positif bagi para pembacanya. Karena melahirkan bukan saja proses untuk bertemu ia yang telah dinanti selama 9 bulan lamanya, namun sebuah proses untuk bisa melahirkan diri sendiri secara utuh, merubah pola pikir, gaya hidup juga "pematangan diri". Melahirkan merupakan sebuah proses mengeluarkan diri sendiri sebagai pribadi baru yang sudah selayaknya menjadi lebih dewasa dalam bersikap, karena peran ganda yang dimiliki, bukan hanya sebagai istri namun juga sebagai madrasah utama dari anugerah yang sudah Tuhan kasih." (Vivi Zulfiana, 2020)

Halo temanibun, apa kabar?
berjumpa lagi dalam cerita saya yang kali ini mengambil tema mengenai cerita melahirkan. 
Jadi dalam cerita ini saya akan bercerita super detail mengenai persiapan melahirkan dan proses melahirkan yang saya alami, pun beberapa ilmu yang saya dapatkan dari kuliah singkat menuju proses persalinan yang pernah saya ikuti di salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak di Jakarta pada saat usia kehamilan saya sekitar 29 minggu. Semoga ada pelajaran dan hikmah yang dapat diambil setelah membaca tulisan ini ya. 

Jadi kurang lebih tulisan saya kali ini akan berfokus pada empat poin penting: 

Cerita singkat Kehamilan 

Pernah dengar istilah "hamil kebo"? yang saya pahami definisi dari hamil kebo ini ialah jika seseorang yang sedang hamil dan dikehamilannya tersebut dia tidak mengalami yang namanya mual, muntah, ngidam, pengennya banyak tidur, tidak ada yang dirasakan berlebih. Ya, semua bisa berjalan normal seperti sebelum hamil atau bahkan tak sedikit orang yang baru sadar bahwa dirinya sedang hamil ketika memasuki trisemester kedua karena perut sudah mulai membesar. 
 
Namun kehamilan saya yang pertama kemarin bukan termasuk dalam kategori hamil kebo. Karena saya mengalami hyperemesis di trisemester awal. Yang saya rasakan? tentu saja mual, muntah. Bahkan berat badan saya turun sampai 4kg, Alhamdulillah meski begitu, alhamdulillah berat badan janin terpantau ideal sesuai dengan perkiraan berat di standar usia kehamilannya. 
sumber: canva

 

Memasuki trisemester kedua, nafsu makan mulai kembali pulih, bahkan di bulan pertama trisemester kedua ini saya langsung achieve target berat badan seperti kondisi sesaat sebelum hamil. Yap, langsung naik 4kg dalam waktu 1 bulan. Nafsu makan mulai membaik, makan apa saja mau, tanpa keinginan ngidam yang macem-macem, ya! saya termasuk yang nggak ngerasain ngidam pengen ini, pengen itu.
 
eiits ada ding ngidamnya, satu doang tapi ngidam saya pas hamil. Di trisemester awal, saya sempet mimpi gitu untuk foto dengan Bapak Sandiaga Uno, dan qodarullah, biidznillah langsung di ijabah di akhir pekannya hehe. Alhamdulillah, rejeki bumil! 
foto bersama sandiuno
sumber: koleksi pribadi

 

Trisemester tiga saya hanya fokus untuk rileks, perkuat afirmasi dan kuatkan mental untuk hadapi persalinan. Poin penting yang saya garisbawahi dalam hal ini adalah tekadkan dalam hati dan diri untuk lahir menjadi pribadi yang baru, perbanyak ilmu, perkuat do'a, sisanya pasrahkan kepada Sang Maha Pemilik. Setiap hari sebelum tidur saya biasakan untuk relaksasi diri, afirmasi positif dan perkuat bonding dengan suami. 

Proses Pemberdayaan Diri 

Poin kedua yang ingin saya sampaikan mengenai ikhtiar apa saja yang saya lakukan untuk dapat melahirkan sesuai dengan keinginan. ya dong! sebagai muslimah saya meyakini sekali bahwa ikhtiar adalah kewajiban yang harus kita lakukan. Ikhtiar itu ada di ranah manusia. Nah kalau takdir itu berbeda dengan ikhtiar. Takdir adanya di ranah Allah SWT.
 
Tugas kita sebagai manusia adalah berikhtiar seoptimal mungkin. Saya yang penuh dengan perencanaan orangnya (iya, apa-apa itu kalau bisa direncanain dulu, super sistematis, tapi kadang malah jadi terlalu perfeksionis! Plis jangan dicontoh. Karena yang terlalu itu tidak baik)

Kembali ke topik, jadi apa saja sih ikhtiar yang saya lakukan untuk bisa melahirkan sesuai dengan cara yang saya inginkan?

Kuatkan Niat 

Perkokoh tekad. Niat dan tekad itu saya ibaratkan pondasi hati. Kalau ngga kuat-kuat banget bisa aja goyah. Jadi sering-sering deh muhasabah diri, bener ngga ya aku niat mau begini? 
 
Jadi gini. Misalnya saja bicara soal persalinan yang memang tergantung dari perspektif si pembaca ya. Artikel yang saya buat ini tolong jangan dibaca dari sudut pandang bahwa saya sedang membandingkan metode persalinan. Sungguh! saya tidak ada niatan untuk hal itu. Jadi memang tujuan saya disini adalah untuk berbagi berdasarkan pengalaman yang saya alami. Pesan saya adalah, sebelum memilih metode persalinan, pastikan dulu kita sudah paham konsekuensinya. Dan bismilah harus ikhlas. ikhtiar boleh gaspol, tapi tetep harus ingat bahwa ada ranahnya Allah dalam setiap hela nafas ini :) 

Perbanyak Referensi dan Literasi

Edukasi diri itu amat penting. Apalagi di jaman yang begitu canggih seperti sekarang ini. Apa sih yang sulit? bahkan dengan mengetik kata kunci via mesin pencari kadang kita sudah menemukan apa yang kita cari bukan? :)) 

Yang saya lakukan di langkah ini adalah mengedukasi diri mulai dari yang gratis sampai bayar. Cari yang gratisan banyak kok moms. Mulai dari follow akun influencer di instagram yang mengedukasi mengenai proses persalinan, bagaimana cara afirmasi diri, beli buku dan membacanya hingga tuntas, dsb. Semua bisa didapatkan dari memperkaya referensi dan juga literasi. Oh iya, poin penting dari edukasi diri ini menurut saya cuman 2 hal. Pahami dan lakukan!

Sering-sering mengedukasi support system Tahapan ini saya garisbawahi dalam setiap proses. Karena support system amat penting perannya dalam proses persalinan. Tanpa mereka, belum tentu kita bisa mencapai proses persalinan yang kita inginkan. Jadi pastikan support system kita sepaham dengan metode yang kita inginkan, dan paham mengenai metode tersebut ya :)

Implementasi referensi dan literasi yang sudah dipahami Di tahapan ini, kita bicara tentang komitmen diri sejauh mana kita akan konsisten dalam melaksanakan komitmen tersebut. Diri kita sendiri yang punya kendali penuh. Keinginan kuat, pemahaman konsep dan implementasi ilmu sangat berperan.

Wah panjang juga ya ternyata artikel ini. 
Biar enak bacanya, saya bagi menjadi 2 bagian artikel aja ya moms 😆. 
Dua poin lain akan saya jelaskan dalam artikel berikutnya. 
 
Terima kasih telah berkenan membaca tulisan saya ini temanibun.

Salam Hangat,