Membacakan Nyaring: Melatih Kebiasaan Baru


Saya pikir membacakan buku kepada anak itu sesederhana membuka buku kemudian dilanjutkan membacakan teks yang ada di dalamnya. Paling kalau mau pakai mikir, ya tinggal pilih buku bergambar atau foto saja. Nanti kita yang berperan untuk mengarang cerita kepada anak tersebut


Ternyata... tidak semudah itu hey brosist!


Saya pernah coba membacakan buku kepada anak saya, tapi hanya bertahan paling lama 2 menit aja. Hahaha. Hal tersebut udah lama sih saya lakukan, yaah sekitar 4 bulan lalu gitu lah. Kemudian ada seorang kawan di sebuah percakapan memberi informasi kepada saya bahwa ada satu pelatihan yang sangat erat hubungannya dengan kegiatan membacakan buku kepada anak. 

Saya penasaran dong! Pun juga sesuai dengan kebutuhan saya saat ini, saya langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan tersebut. Metode yang biasa disebut dengan MEMBACAKAN NYARING atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah READ ALOUD adalah pelatihan yang sedang saya ikuti sekarang ini.

Jujur, saya baru saja mengenal metode tersebut di tahun ini. Usia anak saya sekarang satu tahun lebih sedikit dan saya baru mulai rutin membacakan nyaring kepada anak seminggu lalu dengan durasi paling cepat 10 menit setiap harinya. Alhamdulillah, semenjak ikut 2 pertemuan kemarin saya mendapat insight bagaimana membacakan nyaring dapat diterapkan kepada anak saya ini.

Di pertemuan pertama pelatihan, para peserta mendapatkan materi yang mendalam mengenai bagaimana cara Melejitkan Kecerdasan Anak Melalui Membacakan Nyaring. Dari hasil pertemuan pertama, alhamdulillah sudah seminggu ini anak saya bebas dari dunia pertelevisian. Sebenarnya dikatakan candu sih alhamdulillah tidak. Hanya saja saya terlalu khawatir jika anak saya setiap hari mengonsumsi tivi.

Namun apa daya, alih-alih merasa tidak enak pada orangtua justru yang saya lakukan adalah hal yang sangat tidak disarankan oleh para pakar. Tivi tidak baik dikonsumsi oleh anak kecil. Apalagi di masa tumbuh kembang emasnya. Saya sangat bersyukur saat pertemuan pertama bisa menyimak bersama dengan orangtua saya. 

Karena sejauh ini, saat saya yang memberikan informasi perihal dampak dari konsumsi tivi untuk anak bayi atau balita selalu diabaikan. Justru saat penjelasan tersebut diberikan oleh Bu Roosie langsung saat pelatihan online, Ibu saya jauh lebih bisa menerima dan mendukung penuh agar anak saya tidak lagi mengkonsumsi acara di televisi (baik itu channel anak ataupun youtube).


Kembali ke topik utama, yang muncul di benak saya saat mendengar kalimat membacakan nyaring adalah: Apa ada manfaatnya? Apa bedanya dengan bacain buku anak? Lalu berapa lama hal tersebut sebaiknya dilakukan?

Insya Allah dalam artikel selanjutnya akan dibahas hehe. Terima kasih telah mengunjungi blog saya.

Salam,

4 komentar

  1. Semangat Vi..Alhamdulillah udah no screen time ya. aku kelepasan malah, karena berdalih usia 2 tahun boleh screen time, jadi ngasih kelonggaran itu deh, max 30 menit sehari. Sekarang pengen nol screen time susaaah banget..Huhu. Bener ya, dari awal mending ga usah sekalian..soalnya anak gampaaang banget suka tv dibanding baca buku. baca buku seenggaknya 21 hari berturut-turut baru suka. eeeh tv sekali dinyalain dia suka 😭

    BalasHapus
  2. kemarin sempet kebobolan lagi dit :( tapi udah lsg pelan-pelan aku ingetin. Ya Allah mudahkan kami untuk mendidik anak-anak kami dengan baik. aamiin

    BalasHapus
  3. Ikut pelatihan worth it ya mb berarti. Thx for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii mbak, terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini :)

      worth it bangeeeet sungguh mbak

      Hapus