[Review Novel]: Critical Eleven – One of Best Love Stories in 2016

Account IG: @vivizulfiana 

Assalamu’alaikum !

Dalam artikel kali ini, saya hanya ingin melakukan review terhadap buku yang sudah selesai saya baca sejak akhir tahun lalu: Critical Eleven, judulnya.

“Membaca critical eleven? Tiga menit pertama yang menyenangkan, 8 menit terakhir yang mengesankan, dan hanya butuh kurang dari 11 detik untuk memutuskan bahwa ini adalah karya favorit saya dari Ika Natassa. Ika sebagai pilot, mengendalikan segalanya dengan sangat baik dan berakhir dengan super smooth landing. Impressive! I absolutely love this book! Romantic and uplifting. This book will successfully put a smile on your face and also make you think.” Ninit Yunita-Penulis. 
Salah satu quotes yang menarik dan semakin membuat saya tertarik untuk membeli buku ini di toko buku favorit. Saya sebenarnya sudah sejak lama pernah melihat buku ini tergeletak di meja salah satu rekan kerja saya dulu -sepertinya sedang dia baca- dan pernah di post juga dalam media sosialnya yang mendeskripsikan bahwa buku ini merupakan salah satu buku yang menarik dan layak untuk dibaca, adalah Nia, tentunya jauh sebelum saya memutuskan untuk membeli akhir tahun kemarin dan membacanya beberapa saat lalu :D

Jadi ceritanya, alasan dibalik alasan kenapa pada akhirnya saya beli buku ini adalah ketika dalam sebuah percakapan text saya dengan seseorang terdekat, lalu dia bilang bingung mau pilih buku apa untuk menemani perjalanannya lusa keluar kota yang menghabiskan waktu kurang lebih delapan jam di dalam kereta, akhirnya saya nyeletuk dan bilang:

“aku inget bukunya critical eleven, kemudian saya rekomenin dia baca review dari google atau blogwalking terus saya bilang buku itu cukup nge-hits juga, katanya sih bagus.” Dan gak sampe lima menit kemudian dia bilang :

“aku udah lihat reviewnya, ika Natassa yang nulis, pasti bagus, yaudah aku beli buku itu ya, biar kamu bisa baca juga. (dalam hati saya, kok rekomenin buku yang ternyata dia udah tau siapa penulisnya dan karya-karya tulisannya yang bagus, padahal saya denger nama Mbak Ika aja baru sekarang-sekarang ini) *ngerasagagalawesome* hahahaha.” Kemudian buku itu dibeli dan menemani perjalanannya keluar kota akhir tahun kemarin. Setelah selesai baca dia bilang:

“Aku udah selesai baca. Bukunya bagus. Kalo Ika pasti bagus. Banyak pelajaran.” Saya emang udah nebak bagus sih, udah ketebak kan dari review dan postingan temen saya itu. Saya emang suka baca buku, tapi buku yang paling saya suka adalah buku-buku karya motivator yang isinya kebanyakan suka ngasih semangat buat tetep thought dalam menjalani hidup ini. Hehehe. Paling bagus ya karya nya Bang Tere Liye, saya sampai rela keliling toko buku buat beli novelnya si Abang saking tergila-gilanya karena habis baca hasil karyanya yang berjudul : Berjuta rasanya dan Daun yang Jatuh Takkan Pernah Membenci Angin (waktu lagi galau-galaunya banget saat itu). Suka banget sama gayanya si Abang yang pinter menjadikan buku sebagai salah satu nasihat buat kehidupan ini. Tak lupa juga diselipin seni Agama untuk tetep bisa ingetin kita sama yang Milikin segalanya Alloh SWT dan tiada daya dan upaya melainkan pertolongan darinya. Kapan-kapan saya review ya. Semoga masih pada betah baca hehe

Oke! Back to the topic. Saya akhirnya baca buku ini setelah si dia membawakannya kemarin waktu kita ketemu. Kemudian baru semalem dia ingetin :

“kamu udah baca bukunya belum? Saya bilang belum. Yaudah aku nonton, kamu baca buku itu ya. Saya bilang Iya.” Baru tadi sebelum maghrib saya selesai baca bukunya. Dan menurut saya pribadi, novel ini very recommended buat mereka yang mungkin “kurang picnic” seperti saya hahaha. Abis nghibur banget sih 😊 terus pelajarannya banyak banget yang bisa di ambil. Salah satu cuplikan tulisan favorit saya adalah :

“Gue teringat lagi yang pernah dikatakan Ayah. “Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu” (Critical Eleven hal. 34) Suka banget sama cuplikan itu, mengingatkan kita bahwa dalam hidup membutuhkan perjuangan. Entah dalam hal pendidikan, prestasi, karir, pertemanan, bahkan percintaan. Semua butuh usaha dan gak ada yang jatuh gitu aja dari langit. Dalam agama saya, familiar banget yang namanya tawakkal. Untuk bisa memperoleh sesuatu yang terbaik –entah itu sesuai dengan apa yang kita inginkan atau Alloh kasih apa yang kita butuhkan- semua butuh usaha untuk bisa mendapatkannya. Tentunya ketika usaha sudak maksimal kita jalankan dan doa selalu kita panjatkan, sebagai makhluknya sudah sewajibnya kita pasrah dan ikhlas atas semua yang dikehendakiNya. Alloh pasti kasih yang terbaik. Percaya dan yakin akan hal itu. 😇

Mungkin setelah baca cuplikan diatas, kalian udah bisa nyimpulin sesaat kalau saya emang bener-bener suka banget ya sama motivasi, hehehe. Itu hal pertama yang gampang melekat buat saya. “motivasi” tapi selain itu hal kedua yang saya sukai adalah Mbak ika pinter banget memadumadankan tulisan yang gak bikin orang yang membacanya menjadi bingung.
Menjadikan sebuah alur cerita yang mudah dicerna serta jenaka.

Gimana? Udah penasaran belum ?
Atau jangan-jangan udah pada baca ya?
Beneran saya yang gak nge hits dong ini

Kalau kalian juga sudah pernah baca, berbagi cerita di komen dalam tulisan ini juga boleh kok. Boleh banget

Bagi yang belum baca, jangan lupa baca ya! Entah itu hasil pinjem atau beli.
Yang penting baca. Oh iya satu lagi saya saranin sebaiknya yang baca yang sudah tergolong dewasa ya. Usia diatas 20 tahun gitu. Soalnya ini pelajaran buat kehidupan kedepan, ndak lagi bahas tentang pendidikan sekolah buat adik-adik. Buat yang masih kecil sabar ya. Ada waktunya :D

Semoga tulisan ini bermanfaat ya.

[Review Buku] : Menikahimu dengan restu ayah - ibu

Sebelum menjadi bidadari untukmu, sebelum menjadi bidadari untuk anak-anak kita yang lucu, izinkan aku mendapat sepenuh restu sepasang bidadariku, dan kau pun dapatkan sepenuh restu sepasang bidadarimu - Fufu & Canun.
  
Entah mengapa, quotes tersebut mampu membuat hati saya terenyuh hingga terasa ada yang bergetar bagaikan sedang jatuh cinta. *agak lebay ya, hehe* ya.
Bicara tentang restu, tentu bukanlah hal yang main-main. ini perkara kesuksesan hidup seorang anak kemudian hari, dimana restu dan ridho dari orangtua nya mampu menerangi setiap langkah dan memudahkan setiap rintangan hidup yang dihadapinya. Sebaliknya, tanpa restu dan ridho dari orangtua, tentu hidup akan terasa sulit dan bahkan jauh dari yang namanya kesuksesan. Naudzubillah! Dalam postingan kali ini saya akan membahas buku yang pernah saya baca yang membahas betapa pentingnya restu dan ridho dari kedua orangtua. tentu restu dan ridho dalam artian sebenarnya ya. sebab dalam bagian buku tersebut, ada hal yang dibahas mengenai orang tua yang seolah memberikan restu dan ridho, akan tetapi dalam hatinya belum sepenuhnya turun restu dan ridho tsb.

Buku ini spesifik membahas hal-hal yang berkorelasi dengan restu dan ridho orang tua dalam mempersiapkan sebuah pernikahan. Ya. karena menikah tentu bukan karena alasan ingin melampiaskan nafsu belaka saja, bukan hanya sehari-dua hari- akan tetapi seumur hidup, hingga Yang Maha Kuasa menjemput salah satu dari sepasang suami-istri tsb. Menikah juga bukan perihal kebahagiaan di dunia saja, akan tetapi visi pernikahan utama dan yang pertama ialah membangun kebahagiaan hingga masuk ke jannah-Nya kelak. Aamiin.

Materi yang dibahas mengenai teknik dan cara mendapatkan restu yang sebenarnya dijelaskan secara detail dalam buku ini. Bahkan tak sedikit penulis kang @canun dan teh @fufuelmart menyelipkan kisah yang terinspirasi dari kisah nyata dan dituangkan sebagai pelajaran yang berharga bagi para pembacanya. Tiga metode praktis yang dilahirkan oleh romantic couple yakni cleansing, understanding dan communicating merupakan salah satu hal yang menjadi favorit saya dan sangat mudah untuk di praktikkan. tidak hanya dalam urusan yang berkaitan dengan tema buku ini, tapi juga untuk menghadapi masalah yang mungkin sedang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, penggunaan kata, ilustrasi, design dan gambar yang dipilih memudahkan saya untuk mencerna maksud dan tujuan dari diterbitkannya buku tersebut. Kata-kata yang membuat saya terenyuh pada saat membaca pengantar dan cara benar menggunakan buku ini :

Bukan kebetulan buku ini ada di tangan Anda, entah karena diberi oleh teman, dipinjami teman, dipaksa teman untuk membacanya, asal membeli di toko buku, atau alasan-alasan lainnya, Insya Allah ada maksud baik dari Allah menghadirkan buku ini ke tangan Anda. terimalah dulu bahwa Allah ingin menyampaikan sesuatu kepada Anda melalui buku ini. Ada kesan, hikmah dan kesenangan tersendiri bagi saya setelah selesai membaca buku ini. dan saya rekomendasikan teman-teman untuk membaca-nya. Insya Allah manfaat! :)


Regards,



Background Blogging Hiviana


Bagi perempuan, mengeluarkan kata-kata adalah sebuah kewajiban. Banyak survey yang menunjukkan bahwa wanita memiliki kebutuhan untuk mengeluarkan kata-kata sebanyak dua puluh ribu per hari, sementara pria? cukup hanya tujuh ribu saja. Salah satu artikelnya dapat dibaca disini. Oleh sebab itu, tak dapat kita pungkiri lagi bahwa kecerewetan wanita sebenarnya merupakan sebuah fitrah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

(Link lengkap bisa dilihat dalam artikel ini) tulisan paling bawah yaa
Berhubung sudah fitrah dari sana-nya yang menyebutkan bahwa wanita itu ndak lebih kalem dari pria (re:bawel; cerewet) pun saya termasuk dalam kategori tersebut. Saya ramai dalam dunia nyata, juga dunia maya. Dalam dunia nyata saya mengekspresikan kebutuhan saya melalui sebuah tulisan. Pertama diawali dari adanya sebuah ide dari kepala, kemudian saya tuangkan menjadi kalimat demi kalimat hingga muncullah beberapa paragraph seperti yang kalian baca dalam tulisan yang saya tayangkan ini haha.

Kalau di visualisasikan, jadinya seperti ini:
Sedangkan dalam dunia nyata, saya gak kalah ramenya. Sampai-sampai rekan kantor ada yang memberi “panggilan sayang” buat saya, yakni : vivi cecem. you know what is cecem? maknanya ialah vivi cempreng.

aaaaawwwrgghh. Mau marah tapi ya bener juga sih. saya kalau lagi bicara suka terkesan seperti sedang berteriak bisa-bisa kedengeran sampe ke resepsionis. (Lah emang ngapain bu teriak???) nganu lho, maksudnya sih bicara biasa, tapi emang udah gede gitu volumenya dari sana-nya jadi kalau orang yang kalem nan lembut suka salah menafsirkan sehingga saya terkesan sedang teriak-teriak X)) hahaa

BTW, buk Anda dari tadi nulis panjang kali lebar kali tinggi tapi pembaca tak kunjung menemukan intisari dari topic tulisan ini. hahaha mon map sodara-sodara. 1 makna bisa menjadi beberapa kalimat disaya. Jadi apa sih alasan saya menulis blog? Kenapa saya sampai bikin blog ini? Nulis blog udah mulai dari kapan? sebenarnya sekilas sudah saya jelaskan dalam menu “tentang saya” di blog ini, dan lebih detil lagi akan saya jelaskan dalam topic selanjutnya (nantikan ya! X))

Saya menulis blog karena saya suka mengekspresikan kebutuhan saya melalui kata-kata. Saya suka menulis, buku catatan saya pun banyak, mulai dari Agenda nyata, Agenda Digital, Planner, Diary, dsb. Saya senang menuangkan ide yang ada di kepala saya dengan berkata-kata. Berkata-kata disini bisa bermakna melalui tulisan yang apabila layak saya ekspresikan ke public melalui blog dan media social, atau yang menurut saya cukup disimpan rapat-rapat menjadi sebuah privasi dalam catatan, agenda, diary, dsb. Tak lupa pula dalam dunia nyata saya ekspresikan melalui kalimat-kalimat diskusi (re:ngobrol) dengan teman-teman saya. hehehe

Okey segini dulu pembukaan dari saya ini, semoga berkenan membaca tulisan saya. terimakasih sudah mau mampir dan menyelesaikan bacaan tulisan saya ini hingga selesai.

Ada sumber-sumber artikel lain yang related dengan isi tulisan saya kali ini yang dapat dijadikan bahan bacaan oleh teman-teman: